Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Terpapar covid-19, FZ Meninggal Dunia Bukan Karna Penyakit Yang Dideritanya Selama Ini

Thursday, September 3, 2020 | September 03, 2020 WIB Last Updated 2020-09-04T02:36:09Z
Ket Foto : Jubir Covid-19 Kota Gunungsitoli Onahia Telaumbanua Didampingi Kadis Kesehatan Wilser J Napitupulu.


NIAS UTARA  (Topsumut.co)  Terjawab sudah pasca  FZ meninggal dunia,  akibat terpapar Corona Virus Disease 2019 (covid-19), setelah melakukan konferensi pers yang digelar tadi malam di Kantor Dinas Kominfo Kota Gunungsitoli, Jl. Pancasila No.17 Desa Mudik, Kamis (3/9/20)

Selain menyampaikan informasi perkembangan wabah covid-19, juru bicara Gugus Tugas Kota Gunungsitoli Onahia Telaumbanua, ST, MT didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli Wilser Juliadi Napitupulu, S.Si, Apt, MPH. Menegaskan bahwa FZ meninggal akibat terpapar covid-19, bukan karna penyakit yang dideritanya selama ini. 

Hal ini dibuktikan, saat acara pemakaman almarhum FZ dilakukan dengan cara pemakaman covid-19 oleh tim relawan. Sesuai permintaan keluarga, almarhum dimakamkan di kampung halamannya di Hilindruria Desa Maziaya Kecamatan Lotu pada Rabu (2/9/20)

Ketika dikonfirmasi kepada pihak keluarga almarhum via seluler, Kamis (3/9/20). Kepada awak media Fifen (anak dari almarhum) menyatakan bahwa riwayat meninggalnya beliau tidak perlu di sembunyikan. 



,"Kita tidak perlu menyembunyikan hal ini, terang Fifen. Dilanjutkan, yang jelas beliau meninggal bukan karena penyakit yang selama ini dideritanya, tapi beliau meninggal akibat terpapar covid-19,"ungkap Fifen.

Di jelaskan Fifen : selama ini, beliau dirawat di RSUD Gunungsitoli selama kurang lebih satu bulan dengan sakit yang dideritanya yaitu selain gagal ginjal, beliau juga sakit gula, atau sudah komplikasi. Beliau menjalani cuci darah dua kali seminggu dengan jadwal setiap hari Selasa dan hari Jumat.

Harusnya ruangan disterillkan :

Permasalahannya sekarang, diruang cuci darah itu kan sudah ada yang terpapar covid-19, salah seorang perawat dan termasuk dokternya atau penanggung jawab ruang cuci darah, sehingga pada hari Jumat lalu sebelum cuci darah, beliau dan seluruh perawat saat itu dilakukan rapid test dan hasilnya non reaktif. 

Tapi ketika sudah tahu kalau ada yang terindikasi diruang cuci darah, harusnya ruangan itu di setrilkan. 

Padahal sebelum terindikasi, petugas selalu melakukan penyemprotan dimana-mana, jadi dengan sudah ada yang terindikasi, sepertinya sudah jarang ada yang namanya penyemprotan, dan ini salah satu kelalaian, jelas Fifen. 

Selanjutnya Fifen berharap agar masyarakat selalu waspada dan jangan menganggap remeh yang namanya virus corona ini, harap Fifen. 




(Bung zega)

×
Berita Terbaru Update