Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kelompok Pecinta Alam Perintis 99 Menggelar Seminar Kerukunan Umat Beragama di Kepulauan Nias

Wednesday, December 23, 2020 | December 23, 2020 WIB Last Updated 2020-12-23T16:27:50Z


NIAS  (Topsumut.co) - Kelompok Pecinta Alam Perintis 99 mengggelar seminar dengan tema “Peranan Pemuda Dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama di Kepulauan Nias” di Ruang Aula Conforti JL. Alo’oa No. 1 Gunungsitoli Selatan, Rabu 23/12/2020


Kelompok pecinta alam perintis 99 selaku Ketua Janorani Telaumbanua, S.Kom sementara peserta Seminar  dihadiri oleh beberapa elemen pemuda beda agama yang ada di Kepulauan Nias seperti Pecinta alam tapak Kaki, pecinta alama Tubari, Mapala Stie Pembanas Nias dan Gerakan kebaikan


Selaku narasumber pada seminar tersebut yaitu Pastor Wilfridus Vinsensius Sarah, S.Fil yang merupakan seorang Pastor Pembantu Paroki Santa Maria Bunda Para Bangsa Gunungsitoli pada materi yang disampaikan Wilfridus Vinsensius Sarah, menyampaikan bahwa saat ini kita berada dalam dua situasi, yaitu pertama perkembangan Revolusi Industri 4.0 dimana era kertas menjadi era digital. Kemudian Pandemi Covid-19 mempercepat kehadiran era digital, serta ada juga yang mengatakan mempercepat proses menuju Revolusi Industri 5.0. Berkembangnya teknologi tersebut menimbulkan dampak positif yaitu komunikasi yang lebih efisien dan berkembangnya demokrasi melalui penyebaran berita yang cepat. Serta menimbulkan dampak negatif yaitu diantaranya masyarakat menjadi lebih individualis dan primordialis, sehingga mudah dimanfaatkan ekstrimis agama dan politik, berkembangnya bullying dan terorisme, berita sangat cepat tersebar dan menumpuk, dll." papar pastor


Masih lanjut Pastor Wilfridus mengulas tentang, “Moralitas relatif, Apatis, Minus pendalaman etis”.Oleh karena itu, untuk menangkal dampak negatif tersebut kita harus bekerja keras membangun ‘trust.’ Kita bukan musuh atau opportunis. Kita harus bangun kerukunan, persahabatan, dan persaudaraan. Kita bukan agama yang menciptakan kebaikan bagi semua. Umat beragama harus menjadi subyek, pemberi solusi bukan pembawa masalah bukan obyek atau instrumen politik, selfishness." jelasnya.


Guna menciptakan kerukunan umat beragama Wilfridus Vinsensius Sarah menjelaskan, bahwasannya diperlukan 3 wilayah kerukunan diantaranya; pemangku kebijakan harus membuat kebijakan publik yang melampirkan narasi kerukunan dalam batang tubuh undang-undang atau perda-perda yang dibuat pemerintah (al-wazi’ al-sulthani). Para teolog harus memperkuat teologi kerukunan untuk menjadi panduan etis masyarakat dalam dalam berelasi antar manusia, antar umat beragama (al-wazi’ al-diny). Serta tradisi yang menopang tegaknya toleransi dan kerukunan harus terus dipertahankan dan disebarluaskan ke berbagai pelosok negeri (al-wazi’ al-ijtima’i)." tuturnya sembari  mencohtohkan salah satu bentuk toleransi umat yaitu seperti “Pesan Damai dari Perjumpaan Paus Fransiskus dan Imam Besar Ahmad Al-Tayyeb di Abu Dhabi, 4 Februari 2019”.


Acara seminar selesai dengan semangat yang antusias tinggi dari para peserta dan diberlakukan anjuran Protokol Kesehatan dengan ketat.


Herman/hendry

×
Berita Terbaru Update