Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peristiwa Yang Terjadi di SMP Swasta BNKP Hilimaziaya, Edward Zega Angkat Bicara

Tuesday, January 19, 2021 | January 19, 2021 WIB Last Updated 2021-01-20T02:33:53Z


NIAS UTARA  (Topsumut.co) - Sekolah Menengah Pertama  (SMP) Swasta BNKP Hilimaziaya adalah salah satu aset milik yayasan BNKP yang terkesan kini mulai tidak di hiraukan lagi.

Betapa tidak?, akhir-akhir ini diketahui bahwa sejak kepemimpinan Niat Terima Gea selaku kepala sekolah, beberapa peristiwa yang tengah terjadi, diantaranya : dua kali kemalingan sehingga mengakibatkan hilangnya alat-alat elektronik yang di hibahkan pemerintah seperti : laptop, invocus, dan server yang nilainya ratusan juta rupiah, kemudian sempat ada coretan - coretan di dinding sekolah yang dilakukan oleh orang tidak dikenal (OTK) dengan tulisan yang menyorot kepala sekolah, menurunnya jumlah siswa/i, dan kemudian dua tahun terakhir ini sambungan lampu listrik telah diputus oleh pihak PLN oleh karenanya tunggakan rekening listrik belum dibayarkan. 

Sementara diketahui bahwa SMP Swasta BNKP Hilimaziaya milik yayasan BNKP tersebut, rutin menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Ketika dikonfirmasikan masalah pemutusan arus listrik oleh PLN, kepada kepala sekolah Niat Terima Gea, ia membenarkan. Iya, memang benar bila meteran lampu listrik sudah lama diputus oleh pihak PLN, namun kita sudah kembali menganggarkan untuk membeli meteran lampu baru, namun, untuk lebih jelasnya, silahkan konfirmasi langsung dengan bendahara BOS, Eliasa Zega, S.Th. imbuh Niat Terima.


Kepada awak media, Eliasa zega, S.Th selaku bendahara BOS menjelaskan bahwa alasan pihak PLN memutus jaringan listrik, oleh karena kepala sekolah sebelum dijabat oleh Niat Terima, pihak sekolah sudah menunggak selama enam bulan, lalu karna tidak ada pembayaran maka pihak PLN melakukan pemutusan jaringan lampu," jelas Eliasa. 

Selanjutnya masalah pemasangan meteran baru, sudah kita ajukan kepada pihak PLN, namun sampai saat ini pihak PLN masih belum memiliki stok meteran lampu," terang Eliasa.

Sementara, salah seorang tenaga pengajar menjelaskan kepada awak media bahwa sesungguhnya Silpa dana BOS TA 2019 triwulan IV yang nilainya sekitar Rp 12.600.000 (dua belas juta enam ratus ribu rupiah) kalau tidak salah, kami para guru sudah mengadakan rapat yang intinya silpa dana BOS TA 2019, triwulan IV tersebut, diarahkan untuk pengadaan : Meteran lampu, Speaker aktif, Printer, dan membayar honor yang masih belum terbayarkan bulan oktober, november, dan desember tahun 2019, tapi nyatanya sampai saat ini barang yang sudah disepakati itu tidak kunjung datang, imbuh guru tersebut yang namanya enggan disebut. 

Sebelumnya, awak media pernah wawancara dengan ketua komite, Torotodo Zega terkait beberapa peristiwa yang terjadi di SMP swasta BNKP Hilimaziaya. Torotodo menjelaskan bahwa pihak sekolah atau kepala sekolah sepertinya tidak memfungsikan kami sebagai komite, seperti halnya peristiwa yang tengah terjadi, kepala sekolah tidak mau melibatkan kita dan seolah-olah tertutup kepada kita, tentunya kami juga sebagai pihak komite enggan untuk memberikan masukan,"terang Torotodo. 

Menanggapi peristiwa tersebut,  Edward Zega selaku tokoh masyarakat Nias Utara, yang juga sebagai wakil ketua yayasan BNKP, dan kini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Sumut, angkat bicara.

Edward Zega terkesan kecewa dengan pernyataan ketua komite sekolah yang seharusnya dengan berbagai peristiwa yang kini tengah terjadi di SMP swasta BNKP Hilimaziaya, komite sekolah segera bertindak dan mengambil langkah untuk segera melakukan tindakan yang tepat, kendatipun kepala sekolahnya tidak berkoordinasi lagi dengan komite, karna hal ini kalau dibiarkan, maka lama-lama sekolah kita itu bisa tutup, padahal SMP BNKP Hilimaziaya itu termasuk sekolah tertua di kabupaten nias Utara dan banyak alumni disekolah itu, tegas Edward. 

Ditambahkannya, berbagai peristiwa yang terjadi ini, kami sebagai pengurus yayasan belum mendapat laporan baik dari komite, maupun dari kepala sekolah, contoh seperti meteran lampu ini harusnya kepala sekolah atau komite melaporkan hal ini kepada kami.

Dan seharusnya ketua Komite sekolah punya kewenangan untuk melakukan rapat komite dengan mengundang kepala sekolah dan guru-guru menanyakan berbagai masalah yang tengah terjadi, dan kalau perlu kepala sekolahnya juga di evaluasi, sehingga sekolah tidak berlama-lama berhadapan dengan berbagai masalah. 

Jadi saya berharap, jangan karna kepala sekolah jarang berkoordinasi dengan komite sekolah, lalu komite juga tidak punya rasa memiliki dan lepas tanggung jawab sebagai komite disekolah itu lagi, jadi mari kita saling punya  "rasa memiliki" agar sekolah kita itu bisa lebih maju kedepan,"harap Edward Zega. 




(bung zega)


×
Berita Terbaru Update