Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nelayan Serbu PLTU Pangkalan Susu. Aktivis Lingkungan : STOP PLTU ! Selamatkan Sumut

Sunday, June 23, 2019 | June 23, 2019 WIB Last Updated 2019-06-23T11:13:37Z
LANGKAT (Topsumut.com) Srikandi Lestari bersama Penggiat dan Pemerhati Lingkungan serta masyarakat pesisir timur memperingati Hari Lingkungan sedunia dengan melakukan kampanye kreatif di Teluk Aru tepat di depan PLTU Pangkalan Susu Kab. langkat. Sabtu (222/06/19).

Aksi ini diikuti 120 nelayan dan masyarakat sipil berbagai elemen dengan menggunakan 25 perahu dan membentangkan spanduk 9 X 7,5 M bertuliskan "STOP, PLTU Pangkalan Susu. Bersihkan Sumut dari Energi Fosil Batu Bara".

Bertemakan #BersihkanIndonesia kampanye tersebut merupakan penolakan terhadap PLTU batubara Pangkalan Susu dan  mendesak pemerintah untuk menghentikan penggunaan energi fosil pembunuh dan perusak lingkungan batubara dan menggantinya dengan energi baru dan terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan, serta mendorong Pemerintah untuk segera melakukan transisi energi yang berkeadilan dan melepaskan ketergantungan sistem energi dan ketenagalistrikannya terhadap energi kotor batu bara.
Dikatakan Direktur Yayasan Srikandi Lestari Bahwa ketergantungan terhadap batu bara memiliki dampak negatif pada semua sektor, keberadaan PLTU batubara menurunkan tingkat kesehatan, menghancurkan produktivitas ekonomi rakyat dan merusak lingkungan di Indonesia namun tidak dihitung oleh negara sebagai bencana sosial.

Sepanjang kuartal I 2019, penyaluran batubara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mencapai 23 Juta Ton, jumlah itu setara dengan 23,95 %  dari target penyaluran batubara ke PLTU sepanjang tahun ini. Ambisi pemerintah untuk membangun 35.000 megawatt PLTU  juga sangat rentan terhadap korupsi dan suap yang berpusat pada pembangkit listrik di Indonesia.

Riset yang dipublikasi Greenpeace Indonesia menyebutkan PLTU batu bara diperkirakan telah menyebabkan 6.500 kematian dini setiap tahunnya. Dengan rencana pembangunan PLTU batu bara baru, angka kematian ini bisa mencapai 28.300 orang setiap tahun. Dari hulu ke hilir, biaya kesehatan, lingkungan dan sosial dari pertambangan batu bara tidak diperhitungkan yang pada akhirnya harus ditanggung rakyat.

Biaya kesehatan dari PLTU Batubara misalnya, mencapai Rp 351 triliun untuk setiap tahun. Karena itu, Indonesia membutuhkan langkah serius untuk menghentikan penggunaan energi fosil khususnya batu bara dan beralih pada penggunaan energi terbarukan yang  bersih dan ramah lingkungan di tahun 2025.

"Di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera utara, PLTU batubara Pangkalan Susu, Sumut berkapasitas 2 x 200 megawatt mengakibatkan meluasnya penggundulan hutan bakau, erosi tanah, kehilangan sumber air, polusi udara dan menghasilkan jutaan ton limbah beracun," Sebut Sumiati Surbakti alias Mimi Direktur Yayasan Srikandi Lestari.

Maka melalui aksi ini, lanjut Mimi. Untuk menyerukan agar pemerintah berkomitmen untuk beralih dari energi kotor batu bara ke energi bersih terbarukan, dan untuk berani menghentikan proyek energi kotor batu bara yang menyengsarakan rakyat, tutup Mimi.

Kegiatan tersebut, turut dihadiri olehYayasan Srikandi Lestari, Aliansi Masyarakat Pesisir Pantai Timur Langkat, HNSI, Star FM, Bitra, HARI, FITRA SU, BPRPI, LBH Medan, YAK, KNTI, PESADA, SARBILA, Kelompok Perempuan Sei, Siur Bersatu, Kelompok Perempuan Indah, Lestari Lubuk Kertang, Kelompok Perempuan Maju Jaya Pintu Air dan Kelompok Tani Nelayan Pulau sembilan.

(Ndra)
×
Berita Terbaru Update