Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diduga Anaknya Dibunuh, Pasutri Histeris di Polres Nias

Wednesday, September 2, 2020 | September 02, 2020 WIB Last Updated 2020-09-03T04:55:23Z


GUNUNGSITOLI  (Topsumut.co)  Tangisan dan histeris, pecah di Mapolres Nias   ketika pasangan suami istri (Pasutri), Bedali Gea dan Samaria Zega, Warga Fulolo Saloo, Kecamatan. Sitolu Ori, Kab. Nias Utara, Sumatera Utara menangis histeris anaknya Maresetia Gea (8) yang hilang sejak tanggal 25/7/2020, 

Tangisan kedua pasangan suami istri itu, pecah saat mendengar kasus anaknya yang dilaporkan pada bulan yang lalu tidak membuahkan hasil, Sambari membawa bingkai foto korban, pasutri itu menuntut keadilan dan kepastian hukum atas hilangnya putri mereka bernama Maresetia Gea (8) yang diduga hilang dan dibunuh.

Tangisan  histeris pasutri ini mengundang perhatian beberapa warga dan sejumlah wartawan, betapa tidak rasa haru melihat kedua pasutri ini menangis sejadi- jadinya, meminta perlindungan hukum dan kasus hilangnya anak mereka di usut tuntas dan segera menemukan pelaku yang di duga menghabisi anaknya di pinggir sungai bozilimo, desa Hilisalo,o kec Sitoli ORI, kab Nias Utara, yang  akhirnya kedua pasutri itu  mereka di terima di ruang Unit I Satreskrim Polres Nias, Selasa (2/9/2020).

Pasangan suami istri ini, merasa curiga dan menuding saudara kandungnya yang tidak lain paman korban sebagai otak dibalik kehilangan putrinya, dan tangisan pasutri, untuk  meminta penyidik mengusut kasus anaknya di duga di bunuh oleh paman korban.



Kronologis, Peristiwa hilangnya bocah umur 8 tahun ini, An Marsetia Gea, diketahui terjadi pada 25 Juli 2020  sekitar pukul 21.00 WIB, saat paman korban kembali dari kebun dengan membawa cucunya berumur 2 tahun dan kemudian memberitahukan kepada menantunya bahwa korban telah ia tinggalkan di tepi sungai karena alasan banjir.

“jarak  sungai itu dengan rumah korban tidak terlalu jauh dari rumah korban, atau pasutri,  disaat itu juga oleh paman korban memberitahu kepada menantunya, yang kemudian sang menantunya, bahwa korban telah ia tinggalkan di tepi sungai, lalu menantu dari terduga/ paman korban,  menyampaikan kepada ibu korban,  Setelah tiba disungai Bozilimo itu ternyata tidak ada banjir. Kemudian malam itu dilakukan pencarian, namun tidak membuahkan hasil, sehingga  Tim Sar bersama BPBD turun mencari selama lima hari namun tidak juga ditemukan,” ungkap Foriman Zega, yang tidak lain juga termasuk keluarga korban.

Dalam penuturan Foriman Zega, pihak keluarga merasa curiga atas kehilangan Marsetia Gea karena pihak terduga pelaku berulang kali meminta perdamaian dengan menawarkan uang sebesar Rp 20 juta, kepada pasangan suami istri itu, dan menimbulkan tanda tanya kepada pihak keluarga korban, ada apa terduga paman korban menawarkan uang sebesar Rp.20 juta kepada kami, kecurigaan kepada terduga semakin besar dengan tawaran uang yang di tawarkan paman korban.



“Beberapa kali pihak keluarga terduga pelaku itu mintai damai bahkan menawarkan uang sebesar Rp20 juta namun ditolak oleh orangtua korban,” katanya.

Saat keluarga melakukan pencarian di lokasi diduga tempat hilangnya korban diduga ada upaya  menghalang- halangi oleh oknum kepala desa setempat.

Menurut penuturan Foriman. ," Kades Didesa tempat kejadian perkara, masih ada hungan saudara dengan terduga/paman korban, di mana saat melakukan pencarian kades berupaya untuk menghalang-halangi pencarian tersebut di lokasi tempat kejadian perkara," tutur Foriman.

Lanjutnya, pada saat kami melakukan pencarian di lokasi kejadian.

“disaat kami turun melakukan pencarian saja, kami dimasa untung saja kami selamat. Namun, yang mengherankan kami keluarga kenapa oknum Kades di desa tetangga itu mencoba menghalangi proses pencarian waktu itu, hingga sampai sekarang dengan alasan harus ada surat keterangan dari kepala desa, baru kalian bisa melakukan  pencarian disini,” tutur Foriman menirukan ucapan kades.

Namun Foriman membeberkan, sudah ada beberapa bukti petunjuk yang disampaikan keluarga, kepada pihak penyidik  namun tidak dikembangkan oleh penyidik dalam mengungkap kasus tersebut, hilangnya bocah tersebut.

“Kami kehilangan akal dan  sudah capek, bahkan kesedihan dan air mata sudah habis tertimpa ruah meminta kasus ini di tangani secara serius, bukan hanya itu uang pun habis. kami harus mengadu kemana lagi,  Seandainya  penyidik serius ada beberapa bukti petunjuk yang bisa dijadikan bahan proses penyelidikan dan itu kami siap membantu penyidik dalam mengungkap kasus ini,” pungkasnya.

Sementara, Kasatreskrim Polres Nias AKP Junisar Rudianto menyatakan pihaknya akan terus melakukan pengembangan penyelidikan,  dan saat ini baru pihak keluarga korban yang sudah dimintai keterangan, selama hampir sebulan laporan aduan diterima.

“untuk saat ini kita pihak penyidik berusaha melakukan pencarian. Sampai  sekarang memang masih pihak keluarga yang kita periksa dan kita berusaha mencari saksi-saksi yang  lain dalam mengungkap kasus ini,” jelas Kasat Reskrim yang baru menjabat beberapa hari.



(Cobra)


×
Berita Terbaru Update